foto:gudangjogja.id

Yogyakarta, kota yang tak pernah kehabisan pesona, selalu siap untuk menghadirkan pengalaman wisata yang luar biasa. Di sini, kita bisa menikmati seni, kuliner lezat, dan juga keindahan alam yang mempesona. Salah satu destinasi alam yang tak boleh dilewatkan adalah Tebing Breksi, terletak di Desa Lengkong, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keunikan tempat ini terletak pada kemampuannya untuk memberikan pemandangan spektakuler dengan Candi Prambanan, Candi Ijo, dan Kompleks Keraton Boko sebagai latar belakang yang menakjubkan.

Untuk mencapai Tebing Breksi, rute perjalanan cukup sederhana. Kamu dapat mengikuti jalan utama dari Prambanan menuju Piyungan, dan berhenti sekitar 1 kilometer sebelum mencapai Candi Ijo. Jarak tempuh dari pusat Kota Yogyakarta hanya sekitar 17 kilometer, yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit, asalkan kendaraan dalam kondisi baik karena jalannya agak curam dan tidak selalu mulus. Pastikan kendaraanmu siap sebelum berangkat!

Sebelum memulai petualanganmu ke Tebing Breksi, ada beberapa informasi penting yang perlu kamu ketahui.

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk yang Terjangkau

Bagi yang ingin mengunjungi Taman Tebing Breksi, berikut informasi tentang jam buka dan harga tiket masuk:

Taman Tebing Breksi buka setiap hari.
Jam operasionalnya dari pukul 06.00 pagi hingga 20.00 malam.
Harga tiket masuk hanya Rp10.000 per orang.
Dengan harga yang terjangkau, kamu dapat menikmati keindahan Tebing Breksi. Selamat menjelajah!

Dari Tambang Kapur ke Pesona yang Tak Tergantikan

foto:jogja.tribunnews.com

Dulu, Tebing Breksi adalah tempat penambangan kapur yang memberikan mata pencaharian bagi warga sekitar. Namun, sekarang, Tebing Breksi telah berubah menjadi destinasi wisata yang menarik perhatian banyak orang.

Awalnya, Tebing Breksi terbentuk dari abu vulkanik yang dikeluarkan oleh Gunung Api Nglanggeran dalam erupsinya puluhan juta tahun yang lalu. Lama kelamaan, abu tersebut mengendap dan menjadi lumpur yang akhirnya mengeras menjadi batuan kapur. Inilah asal-usul batuan kapur besar yang terdapat di Desa Sambirejo, Prambanan.

Selama bertahun-tahun, penambangan batuan kapur di daerah ini menjadi sumber mata pencaharian utama bagi warga sekitar. Namun, pada tahun 2014, ketika hanya sebagian kecil dari Tebing Breksi yang tersisa, para peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) datang untuk memeriksanya. Mereka menemukan bahwa Tebing Breksi memiliki jenis batuan tufa yang sangat langka, sehingga dinyatakan sebagai salah satu Geoheritage Yogyakarta yang dilindungi dan tidak boleh ditambang lagi, dengan tujuan utama untuk pendidikan.

Meskipun penambangan dihentikan, Tebing Breksi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan warga sekitar. Beberapa orang mulai datang ke sini untuk menikmati keindahan matahari terbenam dan berbagi pengalaman mereka di media sosial. Dari sinilah, Tebing Breksi mulai menjadi populer di kalangan wisatawan.

Sekarang, Tebing Breksi telah mengalami perubahan besar. Batuan kapur yang menjulang hingga 30 meter telah diukir menjadi relief dan patung yang menggambarkan kisah-kisah pewayangan, seperti Arjuna membunuh Buto Cakil, naga dengan mahkotanya yang megah, dan patung Semar. Semua karya seni ini diciptakan oleh seorang pemuda setempat yang telaten dan sabar, yaitu Anto.

Untuk memudahkan akses ke tebing, anak tangga telah dibangun di sisi timur. Di sekitar Tebing Breksi, terdapat Tlatar Seneng dan amfiteater yang digunakan untuk berbagai acara, termasuk pertunjukan dan acara nasional. Tlatar Seneng, yang dibuat dari batuan kapur, mengingatkan kita pada teater zaman Yunani klasik.

Selain itu, ada banyak spot untuk swafoto yang menarik. Di sepanjang tebing, terdapat berbagai objek swafoto, seperti burung hantu di tangga masuk, kembang, pohon, dan lainnya. Kamu juga dapat menikmati pemandangan Kota Yogyakarta dari ketinggian. Dari sini, kamu bisa melihat tiga candi utama Prambanan, pesawat yang lewat di Adisucipto, dan jalan-jalan serta lampu-lampu Kota Yogyakarta yang mengagumkan, terutama saat matahari terbenam.

Di sisi timur Tebing Breksi, terdapat lapak-lapak kuliner yang menyajikan berbagai hidangan lezat, seperti tongseng, rica-rica, dan soto. Salah satu yang paling terkenal adalah ayam ingkung Bu Asih, yang sering dikunjungi oleh pejabat-pejabat yang ingin menikmati makanan lezat sambil menikmati suasana Tebing Breksi.

Tebing Breksi terus mengalami pengembangan. Saat ini, sedang dibangun pahatan nama “Tebing Breksi” oleh Anto. Selain itu, ada juga pekerjaan peningkatan infrastruktur, seperti penambahan balok-balok kapur di jalur masuk untuk menghindari masalah selama musim hujan. Di sebelah utara, sedang dibangun kebun buah dan fasilitas akomodasi untuk melengkapi pengalaman wisata di Tebing Breksi.

Tebing Breksi telah menjadi destinasi wisata yang populer dan meraih penghargaan sebagai Tempat Wisata Baru Terpopuler pada tahun 2017. Selama musim liburan, ribuan wisatawan datang ke sini untuk menikmati keindahannya.

Keindahan Tebing Breksi: Wisata yang Menyihir

Tebing Breksi memiliki pesona tersendiri yang menarik banyak pengunjung. Beberapa seniman lokal telah memberikan sentuhan artistik pada tebing ini dengan mengukir relief dan patung berdasarkan cerita pewayangan. Misalnya, ada pahatan Arjuna saat mengalahkan Buto Cakil, naga dengan mahkota megah, dan patung Semar.

Tidak hanya itu, dinding tebing yang unik dengan patahan-patahan juga menambah pesona tempat ini. Tebing ini terbentuk jutaan tahun lalu, dan meskipun tidak lagi digunakan sebagai tambang, sisa-sisa aktivitas penambangan menciptakan pola dan ornamen yang membuat tebing ini tampak seperti kue lapis.

Banyak orang suka berfoto dengan latar belakang tebing ini. Tidak heran jika tempat ini sering dijadikan lokasi foto pre-wedding atau momen istimewa lainnya. Yang paling istimewa, kamu bisa melihat pemandangan alam dan Kota Yogyakarta dari puncak tebing. Kamu juga bisa menyaksikan aktivitas sehari-hari, seperti pesawat yang lepas landas, kendaraan yang bergerak di jalan, dan lainnya.

Kalau kamu berkunjung saat siang hari, jangan lupa membawa kacamata hitam dan payung untuk melindungi diri dari panasnya matahari. Selain itu, sediakan juga air minum untuk menghindari dehidrasi karena kamu harus menaiki anak tangga untuk mencapai puncak tebing.

Pilihan Transportasi di Tebing Breksi

foto:momenwisata.com

Bagi yang ingin mengunjungi Tebing Breksi, kamu bisa memilih jenis transportasi sesuai dengan jumlah orang yang ikut serta. Kalau hanya berdua atau sendiri, sepeda motor bisa menjadi pilihan untuk perjalanan yang lebih cepat dan menghindari kemacetan. Tetapi jika rombonganmu lebih dari empat orang, kamu bisa menggunakan mobil.

Selain itu, kamu juga bisa menyewa Jeep Wisata di Tebing Breksi dengan harga mulai dari Rp315.000,- per jeep. Mereka menawarkan berbagai paket wisata dengan durasi, harga, dan kapasitas penumpang yang berbeda. Ada paket short trip yang mengunjungi Tebing Breksi, Candi Ijo, Watu Payung/Selo Langit, sampai Obelix Hills. Sedangkan untuk paket long trip, kamu akan diajak ke Tebing Breksi, Candi Ijo, Watu Payung/Selo Langit, Obelix Hills, Bukit Teletubbies, Desa Wisata Pereng, dan berakhir di Desa Wisata Rumah Domes.

Selain itu, Tebing Breksi sekarang juga dibuka untuk anak-anak di bawah 12 tahun. Sesuai dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 53 tahun 2021, anak-anak di bawah usia tersebut diperbolehkan masuk, tetapi harus didampingi oleh orang tua. Jadi, jangan ragu lagi untuk merencanakan liburanmu ke Tebing Breksi!

Categorized in:

Rekomendasi Wisata,

Last Update: 2 Oktober 2023

Tagged in: